Senin, 25 Juni 2012

Masihkah Ada Syirik di Zaman Modern?


Muqoddimah

Syirik merupakan dosa yang paling besar. Dosa syirik tidak diampuni Allah jika pelakunya tidak bertaubat. Dosa syirik menjadikan pelakunya kekal di neraka selama-lamanya. Dosa syirik bisa membatalkan semua amalan yang telah dikerjakan. Bila demikian maka merupakan kewajiban kita semua untuk mewaspadai syirik dan menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam kubangannya. Perhatikanlah firman Allah:

وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ ﴿٣٥﴾

Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala. 
(QS. Ibrahim: 35)

Renungkanlah, jika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam saja yang merupakan penghulu ahli tauhid takut akan kesyirikan pada dirinya dan anak keturunannya, lantas bagaimana dengan kita?! Apakah kita merasa lebih kuat tauhidnya daripada Nabi Ibrohim ‘alaihissalam?!!

Namun, aneh tapi nyata, ada sebagian orang yang merasa aman dari dosa syirik dengan alasan bahwa kesyirikan sudah tidak ada lagi pada zaman sekarang, bahkan lebih aneh lagi mereka menvonis bahwa orang yang mengingkari kesyirikan mereka dengan kesesatan dan penyimpangan[1]. Lantas, bagaimanakah duduk permasalahannya?! Apa sebenarnya yang menjadi sandaran mereka?! Dan bagaimana penjelasan para ulama tentangnya?! Ikutilah kajian hadits berikut dengan saksama. Semoga bermanfaat.

Teks dan Takhrij Hadits

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ في جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ في التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata, “Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya setan telah putus asa untuk diibadahi oleh orang Islam di Jazirah Arab, tetapi setan akan mengadu domba di antara kalian.’

SHOHIH. Diriwayatkan oleh Imam Muslim: 2812, at-Tirmidzi: 1937, Ahmad: 3/313, 354, Abu Ya’la: 2294, al-Baghowi dalam Syarh Sunnah: 3525, 

Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah: 8, Ibnu Hibban: 64, 1836 dari jalur sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu.

Dan diriwayatkan dengan redaksi yang serupa dari jalur para sahabat yang lain seperti Jarir bin Abdillah al-Bajali, Abdulloh bin Abbas, Abdulloh bin Mas’ud, Abu Darda’, dan Abu Hurairah[2] radhiallahu ‘anhum. Kesimpulannya, matan hadits ini adalah shohih dari jalur beberapa sahabat yang banyak.

Makna Hadits

Hadits ini menerangkan bahwa setan merasa putus asa—tiada lagi harapan—kalau penduduk Jazirah Arab akan berkumpul dalam syirik kepada Allah. Karena itu, sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saat ini Jazirah Arab menjadi negara Islam. Tidak lagi semarak syirik kecuali beberapa waktu kemudian Allah membangkitkan sebagian hamba-Nya untuk mengembalikan kepada agama yang murni.

Sebagian ulama bahkan berpendapat bahwa hadits ini umum mencakup seluruh umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Hafizh Ibnu Rojab rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadits ini, “Maksudnya, setan berputus asa kalau seluruh umat ini akan sepakat dalam syirik besar.”[3] Hal ini persis seperti firman Allah:

ٱلْيَوْمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن دِينِكُمْ

Pada hari ini orang-orang kafir berputus asa dari agama kalian. 
(QS. al-Ma’idah [5]: 3)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Penafsiran ini sesuai dengan hadits shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lalu beliau menyebutkan hadits pembahasan).”[4]
Adapun makna ibadah kepada setan dalam hadits di atas adalah ibadah kepada berhala, kuburan, dan (segala sesuatu) selain Allah, dalilnya adalah firman Allah tentang Nabi Ibrohim ‘alaihissalam:

يَـٰٓأَبَتِ لَا تَعْبُدِ ٱلشَّيْطَـٰنَ ۖ

Wahai ayahku janganlah engkau menyembah setan. 
(QS. Maryam [19]: 44)

Ibadah kepada berhala dinamakan ibadah kepada setan karena memang setan yang memerintahkannya[5]. Syaikh Abdulloh Abu Buthoin rahimahullah mengatakan, “Barang siapa yang taat kepada setan dalam salah satu jenis kekufuran maka berarti dia telah beribadah kepada setan.”[6]

Sekilas Bertentangan

Hadits ini secara lahirnya menunjukkan bahwa tidak ada lagi bentuk kesyirikan, namun pada hadits-hadits Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya yang banyak sekali terdapat penjelasan yang sangat gamblang akan adanya kesyirikan dan kekufuran pada umat ini, di antaranya:

عن أبي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ حَوْلَ ذِي الْخَلَصَةِ وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدُهَا دَوْسٌ في الْجَاهِلِيَّةِ بِتَبَالَةَ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak ada bangkit hari kiamat sehingga wanita-wanita Daus berkerumun di sekitar Dzil Kholashoh yaitu sebuah patung yang mereka sembah di masa jahiliah di Tabalah (Yaman).’” 
(HR. al-Bukhori: 6699 dan Muslim: 2906)

عن عَائِشَةَ قَالَتْ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : لَا يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللَّاتُ وَالْعُزَّى

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak akan hilang malam dan siang sehingga Lata dan al-’Uzza diibadahi….’” (HR. Muslim: 2907)

Kenyataan di lapangan juga membuktikan adanya fenomena kesyirikan baik kepada berhala, kuburan, dan sebagainya. Bukti sejarah mencatat adanya kemurtadan dan kekufuran setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau memang demikian keadaannya, lantas bagaimana solusi untuk keluar dari anggapan kontradiksi ini?! Inilah yang akan akan kita bahas pada poin berikutnya.

Mengurai Benang Kusut

Yang harus kita pahami terlebih dulu, hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin saling bertentangan satu sama lain. Bila sekilas terlihat ada pertentangan tersebut maka itu hanyalah menurut pemahaman kita yang dangkal saja. Karena itu, hendaknya kita menggali penjelasan ulama yang ahli di bidangnya untuk menangani masalah ini.

Apabila kita menelaah penjelasan ulama, niscaya akan kita dapati bahwa mereka menguatkan hadits-hadits yang sangat jelas menunjukkan akan terjadinya syirik pada umat ini, lalu mereka menjawab hadits yang kita bahas dengan beberapa jawaban berikut[7]:

1 —  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang isi hati setan yang putus asa karena melihat penaklukan Makkah dan manusia berbondong-bondong masuk Islam. Namun, hal itu bukan berarti tidak akan terjadi syirik di muka bumi, sebab kenyataan telah membuktikan kesalahan dugaan setan dan kebenaran informasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa syirik akan menimpa umat ini. Keputusasaan setan di sini persis dengan keputusasaan orang kafir yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya:
ٱلْيَوْمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن دِينِكُمْ

Pada hari ini orang-orang kafir berputus asa dari agama kalian. 
(QS. al-Ma’idah [5]: 3)

Al-Baghowi rahimahullah berkata, “Orang-orang kafir sangat ingin agar kaum muslimin kembali kepada agama mereka. Namun, tatkala agama Islam telah kuat dan menyebar, maka mereka berputus asa.”[8]

Pendapat alternatif ini dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin[9].

2 —  Maksud hadits ini, setan berputus asa jika semua umat akan sepakat dalam kekufuran. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Rojab dan Abu Buthoin[10].

3 —  Makna sabda Nabi ( الْمُصَلُّونَ ) adalah orang-orang yang kuat imannya, luas ilmunya, berpegang teguh dengan tauhid dan menjunjung tinggi sunnah. Tidak ragu lagi bahwa setan akan berputus asa apabila melihat seorang hamba yang kuat tauhidnya seperti ini.[11]

4 —  Maksud hadits ini bahwa setan berputus asa untuk diibadahi di Jazirah Arab setiap waktu dan sepanjang zaman. Hal ini tidak mungkin terjadi, Insya Allah. Penafsiran ini dikuatkan oleh redaksi hadits yang berbunyi:

ألا وَإِنَّ الشَّيْطَانَ قد أَيِسَ من أَنْ يُعْبَدَ في بِلَادِكُمْ هذه أَبَدًا

“Sesungguhnya setan telah putus asa untuk diibadahi di negeri kalian ini selama-lamanya.” (HR. at-Tirmidzi: 3055 dan dishohihkan oleh al-Albani)[12]

Demikian beberapa alternatif yang disodorkan oleh para ulama kita. Intinya, syirik tetap terjadi pada umat ini. Karena itu, tidak boleh kita merasa aman darinya. Bahkan, wajib kita menjaga diri dan waspada jangan sampai terjerumus dalam dosa syirik karena syirik merupakan dosa yang paling besar.

Penutup

       Sebagai penutup, kami mengutip ucapan berharga Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahtentang masalah ini. Kata beliau:
“Sebagian manusia—apalagi yang berpendidikan—memiliki suatu anggapan bahwa syirik sudah hilang dan tidak kembali lagi karena perkembangan ilmu dan kemajuan zaman! Sungguh, ini adalah anggapan yang batil, karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa budaya syirik merajalela di segala penjuru dunia, lebih-lebih negeri-negeri kafir barat berupa peribadatan kepada para nabi, tokoh, patung, para pembesar, dan pahlawan. Bukti mudah akan hal itu adalah banyaknya patung-patung di tengah mereka yang sayangnya fenomena ini telah menular sedikit demi sedikit ke negara Islam tanpa pengingkaran ulama Islam!! Tidak perlu jauh-jauh, perhatikanlah negara-negara Islam sekarang khususnya kaum Syi’ah. Bukankah pada mereka terdapat fenomena kesyirikan yang banyak sekali dan pemberhalaan seperti sujud kepada kuburan, tawaf di kubur, menghadap dan sholat menghadap kubur, dan berdo’a kepada penghuni kubur?!!”

Kemudian beliau membawakan beberapa hadits tentang terjadinya kesyirikan pada umat ini, lalu berkomentar:

“Hadits-hadits ini menunjukkan secara jelas bahwa syirik itu terjadi pada umat ini. Karena itu, wajib kaum muslimin menjauhi segala sarana yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam kubang kesyirikan. Janganlah seorang tertipu dengan ilmu modern. Hal itu tidaklah memberikan petunjuk kepada orang yang tersesat, sebab petunjuk dan cahaya itu adalah dalam wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maha benar Allah tatkala memfirmankan:

يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ قَدْ جَآءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًۭا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍۢ ۚ قَدْ جَآءَكُم مِّنَ ٱللَّهِ نُورٌۭ وَكِتَـٰبٌۭ مُّبِينٌۭ ﴿١٥﴾ يَهْدِى بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَ‌ٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَـٰمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِهِۦ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَ‌ٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ ﴿١٦﴾

Hai ahlulkitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rosul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
(QS. al-Ma’idah [5]: 15–16).”[13]

Penulis: Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi