Selasa, 24 Juli 2012

Tashawwuf Bukan Tanpa Thariqah (Bagian Pertama)


>Berikut kisah nyata seorang salik thariqah Kadisiyyah. Sebut saja namanya Fulan. Dia baru setahun bersuluk. Secara rutin, setiap Jumat atau Sabtu malam, Fulan bersama salik lainnya datang ke rumah sang Mursyid untuk riyadhah. Suatu ketika, sebelum riyadhah, sang Mursyid mewanti-wanti agar besok selepas subuh, Fulan hendaknya jangan pulang dulu, karena sang Mursyid hendak memberinya tes. Beberapa kali sang Mursyid mengulangi perkataan ini kepada Fulan sehingga mengesankan sesuatu yang teramat sangat serius.Keesokan paginya, setelah mandi pagi, sang Mursyid menyuruh Fulan sarapan terlebih dahulu. Setelah menunggu beberapa lama, sekitar jam 10 lewat, sang Mursyid masuk ke mushala, berganti baju takwa, dan memanggil Fulan ke dalam mushala. Semua jam tangan, dompet, ikat pinggang, atau apa pun yang akan mengganggu gerakan disuruh dilepaskan. Di dalam mushala, Fulan disuruh berdiri di hadapan sang Mursyid. Pintu mushala dibuka dan beberapa salik lain yang belum pulang disuruh melihat.

Sang Mursyid memohon sejenak kepada Allah Ta‘ala, hening, lalu mendadak beliau langsung berkata dengan keras: “Tunjukkan kepada mursyidmu jurus-jurus yang Allah Ta‘ala simpan dalam dirimu!” Fulan merasa seperti ‘lenyap’ dan tiba-tiba nafs-nya menggerakkan jasadnya mengeluarkan banyak jurus bela diri. Jurus-jurus ini berubah sesuai teriakan sang Mursyid, “Jurus pembuka!” atau “Jurus Satu! Jurus Dua!” dan seterusnya, maka Fulan pun bergerak, melompat, merayap, mengelak, memukul, dan seterusnya. Bagi Fulan, ini adalah pengalaman luar biasa karena ternyata dalam dirinya ada jurus yang entah dari mana asalnya.

Sang Mursyid pernah menjelaskan bahwa Allah Ta‘ala memberikan mekanisme pertahanan diri pada setiap makhluknya. Misalnya, taring dan cakar bagi singa dan harimau, cakar dan paruh bagi burung elang, atau tanduk pada rusa, kambing, kerbau dan lain sebagainya. Begitu pula dengan manusia, bahwasanya Allah Ta‘ala pun memberikan mekanisme pertahanan diri berupa jurus-jurus khas yang unik pada diri setiap manusia. Namun, jurus itu hanya bisa keluar apabila manusia telah membersihkan nafs-nya dari dosa. Selain itu, jurus itu pun hanya bisa keluar apabila manusia berserah diri kepada Allah Ta‘ala, dalam keadaan tenang, serta bukan sedang dalam kondisi marah atau bahkan memiliki keinginan untuk menyerang.

Kembali kepada Fulan, setelah selesai dengan tesnya dan Fulan berdiri tenang, sang Mursyid menekankan: “Kalau nanti ada perkelahian yang harus engkau hadapi, jangan lari!” Itulah suara sang Mursyid yang terdengar di telinga. Tetapi, di hati Fulan suara itu berubah menjadi pemahaman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah [2]: 286) Setelah selesai, Fulan pun pulang dan diantar sampai gerbang rumah oleh sang Mursyid sambil mengingatkan lagi: “Ingat, jangan lari kalau memang harus menghadapi perkelahian.” Fulan mengangguk, pikirnya, kalau ternyata dalam dirinya ada jurus seperti tadi, kenapa juga harus lari. Pada saat itu, ada sedikit rasa bangga diri di hati Fulan.

Semua nasihat sang Mursyid hari itu dicatatnya di buku riyadhah seakurat mungkin. Dan Fulan pun bersiap diri karena merasa akan menghadapi ‘perkelahian’ dalam waktu dekat.
Beberapa bulan berlalu. Perkelahian yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang, dan Fulan pun mulai mengendurkan mental alertness akan perkelahian. Nasihat sang Mursyid mulai dilupakannya. Tidak berapa lama kemudian, pelan-pelan Fulan mulai masuk ke sebuah masalah dalam kehidupan. Semakin lama semakin pelik dan kompleks, begitu menekan dan menyita waktu serta energinya. Segala cara Fulan coba untuk menghadapinya, segala akal diputar, segala doa dimohonkan, tapi tetap saja masalah tersebut gagal dipecahkan.
Kondisi ini berlangsung beberapa bulan, sampai satu titik di mana seakan-akan nafs dan jasadnya begitu muak dengan persoalan tersebut. Fulan stress, jenuh, pusing, dan memutuskan meninggalkan saja masalah itu. Dia menarik diri, dan membatin dalam hatinya, “Masa bodoh! Enyahlah! Saya keluar dari masalah ini!” Keputusan ini membuat Fulan merasa lega luar biasa. Dalam keadaan lega ini, Fulan kembali ke rumah sang Mursyid untuk riyadhah. Fulan ingin bersyukur karena telah keluar dari masalah yang menghimpitnya beberapa bulan ini. Namun, sesampainya Fulan di rumah sang Mursyid, setelah disambut ramah, begitu Fulan masuk dan duduk di ruang tengah, tiba-tiba terjadilah sesuatu. Di dalam rumah, sikap sang Mursyid berubah. Beliau menghampiri Fulan, dan kepalanya tiba-tiba didorong dengan keras menggunakan telapak tangan sang Mursyid sampai posisi duduk Fulan terbawa miring. Beliau membentak, “Kamu ini bagaimana? Ada pertempuran malah lari! Sudah dibilang jangan lari dari perkelahian!”

Setelah berkata demikian, sang Mursyid beranjak ke mushala dan shalat, serta membiarkan Fulan di ruang tengah. Di tengah kebingungan karena kepalanya didorong dengan keras secara tiba-tiba, Fulan berpikir: “Perkelahian mana yang Mursyid maksudkan? Rasanya saya belum pernah lari dari perkelahian?” Fulan pun memohon agar Allah Ta‘ala memberinya pemahaman ihwal kemarahan sang Mursyid. Kemudian Fulan teringat bahwa satu-satunya ‘pertempuran’ yang dia lari darinya, yang terjadi baru-baru saja, ternyata adalah masalah kehidupan yang ditinggalkannya. Ternyata itulah yang sang Mursyid maksud dengan ‘pertempuran’ yang harus dihadapi, yaitu, masalah kehidupan. Ternyata tes jurus hanyalah simbol bahwa dalam diri manusia sebenarnya sudah ada sarana untuk menghadapi masalah kehidupan. Jika Allah Ta‘ala menakdirkan manusia untuk menghadapi sesuatu, tentu dalam diri mereka pun sudah disediakan alatnya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah [2]: 286). Sadarlah Fulan betapa dia begitu naif dan bodoh, menganggap ‘pertempuran’ dan ‘tes jurus-jurus’ hanya sebagai ‘berkelahi’ secara fisik.

Berikut kisah nyata salik thariqah Kadisiyyah lainnya. Suatu ketika, seorang salik yang kita sebut juga Fulan, bertandang ke rumah sang Mursyid untuk riyadhah sambil memberitahukan bahwa dirinya telah diterima menjadi dosen di institut terkemuka Indonesia. Ketika mendengar hal itu, sang Mursyid malah menghinanya habis-habisan: “Hah, jadi dosen? Apaan? Gaji kecil, pangkat rendah, mau jadi apa kamu?” Mendapat hinaan seperti itu, Fulan merasa sangat sakit hati. Keesokan harinya dia pulang ke rumahnya. Setelah kejadian itu, Fulan sering berdoa kepada Allah Ta‘ala agar menegur sang Mursyid—sebagai hamba yang dicintai-Nya—bahwa hinaannya tersebut sangat tidak baik dan menyakitkan hati orang lain. Tak lama kemudian, Fulan pun kembali bertandang ke rumah sang Mursyid. Beberapa lama Fulan memperhatikan gerak-gerik sang Mursyid. Fulan ingin memastikan apakah Allah Ta‘ala telah menegur sang Mursyid ihwal hinaannya yang menyakitkan tersebut. Tiba-tiba saja sang Mursyid berkata kepada Fulan: “Kalau orang itu sakit hati, bukankah itu salahnya sendiri?” Mendengar perkataan sang Mursyid, Fulan terperanjat, dan dia pun membatin, “Oh, ternyata Allah Ta‘ala ada di pihak Mursyid. Kalau begitu, memang saya yang salah.” Rupanya hinaan sang mursyid itu untuk “menghajar” harga diri Fulan. Kalau ternyata Fulan malah tersinggung, berarti dia masih memelihara harga dirinya.

Kedua kisah salik thariqah Kadisiyyah tersebut bisa menjadi pembuka yang bagus untuk mengoreksi beberapa kekurangtepatan penilaian tentang mursyid dan thariqah yang belakangan ini sering mengemuka. Berikut dua contoh representatif kekurangtepatan penilaian tersebut. Pertama, “Saya bukan pengikut tasawuf formal. Saya tidak pernah bersumpah setia di bawah telapak tangan seorang guru spiritual untuk hanya menaati dia seorang…Karena saya tidak menyukainya. Saya pikir, tidak ada pemikiran dan kesadaran sehat yang bisa terbangun jika seseorang telah memutuskan untuk berhenti bertanya, dan bersikap kritis.

Kedua, “…Sekurang-kurangnya ada tiga hal penting yang sering dipersoalkan orang mengenai tarekat ini. Pertama, soal otoritas guru yang mutlak tertutup dan cenderung bisa diwariskan. Kedua, soal bai‘at yang menuntut kepatuhan mutlak seorang murid kepada sang guru, seperti mayat di depan pemandinya; dan ketiga, soal keabsahan (validitas) garis silsilah guru yang diklaim setiap tarekat sampai kepada Nabi Muhammad Saw…Salah satu ciri utama tasawuf positif adalah rasionalitas. Karena itu, tasawuf positif harus menolak segala bentuk kepatuhan buta kepada seorang manusia—yang bertentangan dengan semangat Islam.

Sekilas, kedua penilaian ‘kritis’ atas mursyid dan thariqah tersebut terkesan tengah memperjuangkan keotonoman individu beserta rasionalitasnya, namun, sayangnya, agak tergesa-gesa menyimpulkan. Terlebih, kedua penilaian ‘kritis’ tersebut lebih merefleksikan dugaan ketimbang pembuktian melalui pengalaman menggeluti thariqah dan pencarian mursyid sejati. Akibatnya, seringkali muncul banyak komentar tentang tashawwuf, namun itu tak ubahnya seperti komentator sepakbola dengan pemain sepakbola. Seorang komentator sepakbola sangat mahir dalam menganalisis kesalahan pemain, strategi yang dimainkan, kegemilangan permainan, dan lain sebagainya. Namun yang lebih mengetahui dan merasakan realitasnya, yang bersusah-payah, pontang-panting, dan senantiasa waspada terhadap setiap serangan lawan—hingga akhirnya menjadi ‘pemilik sejati pengetahuan’ permainan bola—adalah sang pemain sepakbola itu sendiri. Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Bila kau merasa cemas dan gelisah akan sesuatu, masuklah ke dalamnya, sebab ketakutan menghadapinya lebih mengganggu daripada sesuatu yang kautakuti itu sendiri.”3 Namun, di sisi lain, bisa dimaklumi juga bahwa kedua penilaian ‘kritis’ di atas—yang enggan bersinggungan langsung dengan dunia thariqah—dilandaskan pada perkembangan mutakhir berbagai thariqah hingga kini yang lebih banyak memperlihatkan pembiasan. Akibatnya, lahirlah penilaian ‘miring’ tentang thariqah, dan tidak mengetahui prinsip terdasar kemursyidan dan ke-thariqah-an

Pembiasan adalah hal yang lazim terjadi dalam perjalanan sejarah kemanusiaan. Bahkan berbagai kitab suci pun sering mengemukakan bagaimana di setiap masa senantiasa terjadi pembiasan ajaran agama sepeninggal sang pembawa risalah atau nubuwah. Ini tak ubahnya air yang semakin keruh ketika menjauhi sumber mata airnya, sehingga praktis di hilir hanya akan ditemui air kotor yang sudah tercampur sampah, bangkai dan kotoran. Begitu pula halnya dengan thariqah. Ketika sang pendiri atau mursyid sejatinya meninggal, maka hanya kehendak dan izin Allah Ta‘ala semata yang bisa menjamin kemurnian dan keberlanjutan thariqah tersebut, yaitu, dengan menghadirkan mursyid (sejati) pengganti. Apabila Allah Ta‘ala tidak menghadirkan mursyid sejati pengganti, berarti thariqah tersebut sudah berakhir. Kemursyidan itu adalah misi hidup. Itu hanya boleh dipegang oleh mereka yang telah mencapai ma‘rifat dengan misi hidupnya adalah mursyid. Tidak semua orang yang telah ma‘rifat serta merta menjadi mursyid. Wali Quthb (pemimpin para wali di suatu zaman) seperti Ibn ‘Arabi atau al-Sabti ibn Harun al-Rasyid, misalnya, tidak pernah menjadi mursyid thariqah hingga akhir hayatnya, dan banyak lagi wali lainnya yang tidak pernah menjadi mursyid thariqah.